Kalimat ini sebenarnya kutujukan untuk diriku sendiri. Meski sudah berusaha keras untuk tetap bersikap rendah hati, terkadang ada waktu-waktu yang membuatku berpikir seperti ini:
# 'AKU LEBIH HEBAT DARI ORANG INI, KENAPA AKU HARUS MENDENGARKANNYA?'
# HUH..BEGITU SAJA UDAH SOK! SEOLAH DIA TAHU SEGALANYA!
# TAK ADA YANG BERTANYA PADAMU, AKU SUDAH TAHU ITU!
# HA HA HA KASIHAN..INI NIH JAWABANNYA!
Yup. Sombong. Apa sih yang kumiliki hingga bisa berpikir begitu?
Apa yang bisa kubanggakan?
Perasaan seperti itu justru menjadikan aku bertambah lebih bodoh dari sebelumnya.
Seharusnya aku bisa membuka mata lebih lebar, mendengar lebih banyak, mengamati lebih teliti, mencermati lebih mendalam, menyadari kalau sebenarnya aku tidak tahu apa-apa.
Lihat yang terjadi sekarang. Karena merasa lebih tahu dari orang lain, aku mengabaikan informasi-informasi berharga. Hal-hal yang kuanggap sepele ternyata merupakan pengetahuan yang paling penting. Hanya karena aku meremehkan pemberitahuan dari orang lain yang kupandang sebelah mata, aku kehilangan pengetahuan yang amat bernilai!
Jadikanlah ini sebagai pelajaran bagi kalian. Dengarkan atau baca sedetail-detailnya apa yang orang lain ungkapkan. Jangan pandang status atau kedudukan mereka, karena sekecil apapun informasi yang mereka sampaikan, ternyata bisa mengubah segalanya.
Selasa, 29 Juni 2010
Senin, 28 Juni 2010
Balas Budi
Seorang ibu muda yang terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya menangis terisak sambil memeluk anak balitanya. Tidak dipedulikannya sang kakak yang berteriak-teriak menyalahkan dan memakinya dengan suara membahana. Dia seolah kehilangan seluruh dunia. Bagi orang lain uang sejumlah itu bisa didapat hanya dengan menjentikkan jari. Tapi tidak baginya. Sang suami harus menabuh gendang selama sehari dan 2 malam di sebuah acara untuk memperoleh bayaran sebesar 100 ribu rupiah. Pagi tadi suaminya memberikan uang tersebut kepadanya agar dia bisa mengurus surat-surat dan dokumen yang harus dilengkapi supaya bisa memperoleh sumbangan kesejahteraan dari Pemerintah yang ditujukan kepada rakyat miskin sepertinya.
Kerasnya suara teriakan sang kakak dan tangisannya mengundang tetangga-tetangga di sekitar rumah kakaknya hingga berdatangan.
"Sudah! Sana pulang! Beritahukan suamimu kamu telah membuang uang hasil keringatnya di jalanan!", seru sang kakak mengusir adiknya.
Dengan langkah gontai, dia berjalan pulang. Sambil menggendong anaknya, otaknya juga turut berpikir..'jatuh dimana uang itu? Aku telah menelusuri jalanan yang tadi kulalui, tapi tak terlihat juga'. Dibayangkannya kemarahan suaminya bila dia nanti sampai dirumah. Kesedihan bercampur ketakutan melanda hatinya.
Seorang laki-laki pengendara motor melewati jalanan tak rata menuju rumahnya. Jalanan ini sudah ratusan kali dilaluinya jadi dia sudah kenal lekuk lubangnya. Dari kejauhan dia melihat sesuatu berwarna mencolok. Setelah dekat dia menyadari benda itu adalah selembar uang seratusan yang digulung kecil. 'Uang milik siapakah gerangan ini'? Dimasukkannya uang tersebut ke kantong celananya dan kembali melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di rumah, dia mendengar suara ribut tetangga-tetangganya.
"Ada apa"?, tanyanya ke istrinya.
"Adik tetangga kita tadi kehilangan uang seratus ribu di jalan sana", jawab istrinya.
'Mungkin ini uangnya', pikirnya sambil bergegas keluar rumah dan memacu motornya.
Istrinya hanya memandang heran kelakuan suaminya yang terlihat amat terburu-buru pergi.
"Permisi", teriak lelaki tersebut dari luar rumah ibu muda itu. Dari dalam terdengar suara perempuan menangis diselingi kata-kata mengandung amarah seorang laki-laki.
Dengan tergopoh-gopoh perempuan itu keluar rumah. Matanya tampak sembab.
"Mungkin ini uang ibu. Aku menemukannya tadi di jalan menuju rumah", kata laki-laki itu meyodorkan selembar uang berwarna merah.
Dengan tangan gemetar, perempuan muda itu menerima uangnya.
Sang suami ikut keluar rumah setelah mendengar pembicaraan mereka.
Istrinya kembali menangis sambil terus-menerus mengucapkan terima kasih. Kalau bukan karena masih memegang adat timur, sudah dipeluknya laki-laki penyelamat itu dari tadi.
"Terima kasih pak. Entah dengan cara apa aku bisa membalas budi bapak".
"Sama-sama bu. Aku juga sekarang sedang membalas budi. Sebulan lalu aku juga kehilangan selembar uang lima puluh ribu. Aku sudah mengikhlaskannya. Tapi seminggu kemudian ada seorang ibu datang ke rumahku. Dia memberikan uang lima puluh ribu ke nenekku dan berkata bahwa dia menemukan uang tersebut di dekat rumahku, jadi dia berpikir mungkin saja uang tersebut milikku. Tak disangka ternyata Tuhan memberikan ujian yang sama padaku. DIA rupanya ingin melihat tindakan apa yang kulakukan jika menghadapi situasi yang sama. Syukurlah..aku memilih cara yang benar", ucapnya dengan tersenyum.
Kerasnya suara teriakan sang kakak dan tangisannya mengundang tetangga-tetangga di sekitar rumah kakaknya hingga berdatangan.
"Sudah! Sana pulang! Beritahukan suamimu kamu telah membuang uang hasil keringatnya di jalanan!", seru sang kakak mengusir adiknya.
Dengan langkah gontai, dia berjalan pulang. Sambil menggendong anaknya, otaknya juga turut berpikir..'jatuh dimana uang itu? Aku telah menelusuri jalanan yang tadi kulalui, tapi tak terlihat juga'. Dibayangkannya kemarahan suaminya bila dia nanti sampai dirumah. Kesedihan bercampur ketakutan melanda hatinya.
Seorang laki-laki pengendara motor melewati jalanan tak rata menuju rumahnya. Jalanan ini sudah ratusan kali dilaluinya jadi dia sudah kenal lekuk lubangnya. Dari kejauhan dia melihat sesuatu berwarna mencolok. Setelah dekat dia menyadari benda itu adalah selembar uang seratusan yang digulung kecil. 'Uang milik siapakah gerangan ini'? Dimasukkannya uang tersebut ke kantong celananya dan kembali melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di rumah, dia mendengar suara ribut tetangga-tetangganya.
"Ada apa"?, tanyanya ke istrinya.
"Adik tetangga kita tadi kehilangan uang seratus ribu di jalan sana", jawab istrinya.
'Mungkin ini uangnya', pikirnya sambil bergegas keluar rumah dan memacu motornya.
Istrinya hanya memandang heran kelakuan suaminya yang terlihat amat terburu-buru pergi.
"Permisi", teriak lelaki tersebut dari luar rumah ibu muda itu. Dari dalam terdengar suara perempuan menangis diselingi kata-kata mengandung amarah seorang laki-laki.
Dengan tergopoh-gopoh perempuan itu keluar rumah. Matanya tampak sembab.
"Mungkin ini uang ibu. Aku menemukannya tadi di jalan menuju rumah", kata laki-laki itu meyodorkan selembar uang berwarna merah.
Dengan tangan gemetar, perempuan muda itu menerima uangnya.
Sang suami ikut keluar rumah setelah mendengar pembicaraan mereka.
Istrinya kembali menangis sambil terus-menerus mengucapkan terima kasih. Kalau bukan karena masih memegang adat timur, sudah dipeluknya laki-laki penyelamat itu dari tadi.
"Terima kasih pak. Entah dengan cara apa aku bisa membalas budi bapak".
"Sama-sama bu. Aku juga sekarang sedang membalas budi. Sebulan lalu aku juga kehilangan selembar uang lima puluh ribu. Aku sudah mengikhlaskannya. Tapi seminggu kemudian ada seorang ibu datang ke rumahku. Dia memberikan uang lima puluh ribu ke nenekku dan berkata bahwa dia menemukan uang tersebut di dekat rumahku, jadi dia berpikir mungkin saja uang tersebut milikku. Tak disangka ternyata Tuhan memberikan ujian yang sama padaku. DIA rupanya ingin melihat tindakan apa yang kulakukan jika menghadapi situasi yang sama. Syukurlah..aku memilih cara yang benar", ucapnya dengan tersenyum.
Minggu, 27 Juni 2010
Medali Emas
Balapan Formula 1 tengah berlangsung dengan serunya disuatu sirkuit ternama. Tiba-tiba salah sebuah mobil balap tanpa sengaja menjatuhkan bagian dari mobil ketika sedang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dengan cekatan, seorang petugas yang menangani bagian kebersihan sirkuit berlari secepat kilat ke tengah jalan untuk mengambil 'sampah' tersebut dan kembali ke pinggir jalan tanpa mengurangi kecepatan larinya.
Seorang kameramen menyorot kejadian penting itu hingga nyaris tak peduli dengan balapan yang masih berjalan.
Komentator yang dipaksa ikut menyaksikan peristiwa di layar monitor akhirnya memberikan komentar berbobotnya : 'waw..dia harus mendapat medali emas untuk itu'.
Dengan cekatan, seorang petugas yang menangani bagian kebersihan sirkuit berlari secepat kilat ke tengah jalan untuk mengambil 'sampah' tersebut dan kembali ke pinggir jalan tanpa mengurangi kecepatan larinya.
Seorang kameramen menyorot kejadian penting itu hingga nyaris tak peduli dengan balapan yang masih berjalan.
Komentator yang dipaksa ikut menyaksikan peristiwa di layar monitor akhirnya memberikan komentar berbobotnya : 'waw..dia harus mendapat medali emas untuk itu'.
Langganan:
Postingan (Atom)